Surat Cinta Progresif No.2

Standard

Teh Sarah, semoga cepet sembuh ya. Semangat buat lokakarya dan survival. Sehat selalu.”

Love,

Mel.

Lima belas kata yang ditulis pada selembar post-it itu terbaca lagi malam ini. Melisa Dwi Anggraeni, atau Memel, sebentar lagi akan menikah dengan pujaan hatinya. Memel akan menikah dengan pria yang fotonya terjepit rapi di gantungan koper yang dibawanya ketika pelatihan Calon Pengajar Muda IX (CPM IX).

Hah, koper?

Betul sekali.

Ada “Genk Koper” sekaligus “Genk Pelor” yang merupakan sekumpulan perempuan penguasa satu sudut di barak Jatiluhur, tempat pelatihan CPM IX. Dinamai “Genk Koper” karena kami konsisten dengan keinginan membawa koper untuk memuat segala harta benda untuk tiga bulan pelatihan. Koper saya sendiri rasanya muat untuk diisi tiga orang bayi. Isi koper saya setengahnya adalah buku, setengahnya lagi pakaian dan camilan.

Lalu apa pula “Genk Pelor (Nempel Molor)”?

Penamaan ini ada karena kami konsisten tidur siang setiap hari. Kata Naluri Bella Wati, tidur siang itu penting dan perlu. Kami lebih memilih tidur siang dan menyisakan waktu beberapa menit saja untuk makan dan solat. Tidur siang adalah kemewahan yang hakiki setelah otak kecil kami bekerja keras sejak pagi.

Kami juga terkenal sebagai mahluk yang bangun paling akhir di pagi hari, kecuali sedang piket. Meskipun demikian, kami tidak pernah terlambat untuk ikut pemanasan dan berlari berkilo-kilo layaknya peserta marathon.

Hal-hal remeh seperti ini kami lestarikan dan dijadikan perekat hubungan. Saya sendiri merasa butuh menemukan kesamaan agar bisa damai hidup berdampingan dengan, katanya, pemuda-pemudi terbaik negeri ini. Sadar tidak sadar, kami membentuk ekosistem yang kondusif untuk hidup dan mengembangkan kepribadian.

Mari saya beritahu sesuatu.

Ketika pelatihan saya harus berbagi tempat dengan puluhan perempuan yang karakternya begitu beragam. Untung Tuhan Maha Baik dan menempatkan saya tepat di pojokan, di samping jendela yang begitu loncat langsung tiba di halaman. Kalau para perempuan ini terlalu bising, saya memilih keluar sambil membawa camilan.

Kebaikan Tuhan lainnya adalah menempatkan tempat tidur saya di samping Ruth Christyanti, yang akhirnya menjadi keluarga satu penempatan di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Ruth adalah tetangga tidur yang baik. Ruth, yang sering saya katain Anak Tuhan, kerap membangunkan saya untuk solat Shubuh dan yang paling galak kalau saya terlihat kurang sehat.

Kecuali Budha, semua pemeluk agama hadir di angkatan ini. Kompetisi selalu muncul ketika kami rebutan daging jatahnya Ida Ayu Kadek Trisnanty, seorang pemeluk Hindu yang tidak makan daging. Kami akan berjalan pelan-pelan agar tidak berisik tatkala teman Kristiani mengadakan do’a bersama di pojokan perpustakaan barak. Ruang kelas selalu dirubah menjadi tempat solat berjamaah ketika adzan berkumandang agar umat Muslim bisa segera beribadah. Kalau katanya Anggi Presti; taat sampai akhir, toleransi tetap hadir.

Lalu apa faedahnya dong menghabiskan beberapa menit membaca tulisan yang (mungkin) tidak ada hubungannya dengan Anda sama sekali?

Sejujurnya kami hanya ingin mengukuhkan eksistensi kami setelah resmi menjadi alumni. Kami butuh panggung. Makanya, semua nama dalam tulisan ini bisa Anda check di Google.  Haha..

Oke, serius.

Katakanlah kami ingin balas budi dengan Gerakan Indonesia Mengajar (GIM). Kami, Alumni Pengajar Muda IX, sungguh berterima kasih untuk kesempatan merasakan rangkaian pengalaman yang (cukup) keren (minimal di- CV).

 

IMG_5959

Untuk kami, label Pengajar Muda sepaket dengan tanggung jawab untuk menjadikan  Indonesia tempat hidup yang lebih baik. Cara yang kami pilih mungkin bukan lagi berperan sebagai guru, meskipun beberapa diantara kami akhirnya jatuh cinta dengan profesi ini seperti yang terjadi pada Stevania Randalia. Kami adalah kumpulan kaum profesional yang sedang mendaki menuju puncak kebaikan yang baru.

Jadi karena tema tulisan kali ini adalah Pengajar Muda dan Kemerdekaan,

kami hanya mau bilang kalau rasanya Pengajar Muda adalah mahluk merdeka yang begitu keras kepala karena yakin bahwa setiap pemuda ada masanya dan setiap masa ada pemudanya, persis seperti apa yang tercantum dalam profil Fidella Ananditha Savitri. Masa kemerdekaan Indonesia seterusnya akan kami isi dengan kebaikan konkret sederhana yang kami percayakan pada Tuhan untuk membesarkan dampaknya.

Jadi karena saya adalah pemudi kebanyakan gaya, tolong bantu saya menyukseskan kampanye #IuranPublik ala Indonesia Mengajar.

Satu surat cinta akan saya kirimkan untuk satu orang donatur yang ikutan campaign ini. 

Satu buah buku akan dikirimkan ke sebuah taman baca yang masih dikurasi lokasinya.

Formulanya begini :

1 donatur = 1 surat cinta + 1 buah buku + 1 kontribusi dalam pengiriman Pengajar Muda ke penjuru Nusantara.

Barangkali ada manusia yang seumur-umur belum pernah mendapatkan surat cinta, boleh diajak ikutan donasi. Saya juga bersedia menulis di atas kertas dengan tulisan tangan saya yang amburadul itu dan dikirimkan ke alamat masing-masing.

 

 

Salam,

Meiliani Fauziah (Sarah Siregar)
Pengajar Muda IX, Kabupaten Paser

IG/Twitter : @sarseer | #JodohProgresif

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Kopral Jabrik

Standard

Ini cerita tentang dosen favorit saya yang tampan, tapi galak. Namanya Albert Kuhon. Dosen legenda, malaikat maut yang muncul di mata kuliah Manajemen Media Masa (M3) di Universitas Pelita Harapan. Perkenalkan, Kopral Jabrik.

Para senior seringkali bercerita tentangnya. Kata mereka, mata kuliah M3 itu ngeri-ngeri sedap. Seru, tapi susah lulusnya. Kalau tidak diambil, buang saja cita-cita jadi jurnalis.  Pilih saja jurusan yang lebih nyaman, humas atau periklanan.

Saya masih sangat ingat pertemuan pertama kami. Kelas M3 adalah gerbang pertama memasuki konsentrasi jurnalistik. Harus lulus minimal dengan nilai C, kalau tidak mau mengulang tahun depan dan menunda beberapa mata kuliah. Satu-per satu kami ditanyai nama dan pekerjaan orang tua. Sampailah giliran saya yang menyebutkan bahwa memiliki almarhum ayah seorang jurnalis perang, meski malas mengaku, malas nanti dibanding-bandingkan. Tapi beliau intimidatif. Saya menyerah lalu menyebutkan sebuah nama. Beliau terdiam, ternyata keduanya rekan kerja. Pertemuan pertama ditutup dengan penulisan  nomor kontak di whiteboard dan berkata; “Jangan telepon kecuali hampir mati.”

Kuliah M3 selanjutnya adalah kelas rasa neraka. Sejuta tugas ada untuk menguji kekuatan  pikiran, hati, perasaan, uang dan tenaga. Mata kuliah ini membedah dapur media, mulai dari cetak, televisi, radio dan portal. Harus senyata mungkin mulai dari perencanaan sampai menjadi sebuah produk. Kami adalah komisaris, direktur, reporter, fotografer dan lainnya. Kami juga mengurusi segala urusan finansial, termasuk meyakinkan investor untuk bermitra dengan menjanjikan laba di tahun kelima. Tanpa terjun langsung menguliti media yang ditugasi, mustahil tugas ini bisa dilakukan. Jaringan kerja ditenun sejak saat itu.

Kopral tidak segan-segan mencaci,  melempar, bahkan merobek proposal hasil keringat berbulan-bulan. Tidak ada ruang untuk sampah. Beliau hanya kenal satu kata, sempurna. Jangan berani-berani datang menghadap dirinya bila belum ada kemajuan yang berarti. Baginya seminggu itu waktu yang cukup untuk membuat provokasi Perang Dunia Ketiga. Proses belajar yang keras, tapi entah mengapa terasa begitu menggairahkan.

Kelas ini mirip kawah candradimuka. Jangan harap bisa masuk kelas jika beliau datang lebih dulu. Silahkan tunggu di luar atau pulang saja sekalian. Beliau malas buang-buang waktu untuk kutu busuk tak berguna. Satu semester seperti hanya berisi satu kuliah saja, si M3. Padahal masih ada mata kuliah lain yang juga butuh perhatian. Kami tidak peduli, yang penting harus lolos M3.

Tiba saatnya Ujian Akhir Semester, saatnya memamerkan perusahaan kami yang pertama. Kami tampil profesional sebagai pemilik media. Beliau tidak mau kami setengah-setengah dan loyo ketika perjalanan tinggal sepertiga. Ujian itu diisi dengan semua kelompok saling mengajukan pertanyaan menantang dan ditutup dengan pertanyaan pamungkas dari Kopral sendiri.

Kini saya sudah berhasil mencicipi peran sebagai seorang jurnalis profesional di salah satu media terbaik di Indonesia. Tanpa tempaan yang keras dari Albert Kuhon, mustahil saya bisa menjalani profesi ini dengan penuh kenikmatan.

Sampai sekarang saya masih ingat pesan terakhir beliau sebelum menutup mata kuliah M3 di kelas kami. “Kalian harus ingat perjuangan kalian di kelas ini. Aku hanya mau membuktikan kalau kalian mampu membuat sesuatu yang besar, yang hebat untuk profesi jurnalis. Nyatanya, kalian belum mati kan? Lanjutkan perjuangan kami,” katanya dengan mata yang, entahlah, saya lihat berkaca-kaca. Kopral, terima kasih!

 

Tulisan dibuat untuk Lomba Menulis “Guruku Pahlawanku”  di  http://lagaligo.org/lomba-menulis

Mencari Amang

Standard

Aku mencarinya di banyak hal.

Sebuah sosok dengan titik-titik bijaksana yang menemani diriku tumbuh dewasa.

Yang ada di banyak hal, di buku-buku yang kubaca, pada setiap pertemuan, dalam rangkaian pengalaman.

Yang hadir dalam berbagai bentuk keputusan, cerita tentang keberhasilan, kegagalan, sesekali menyerah, namun semoga selalu tersisa tenaga untuk bangkit berkali-kali.

Yang adalah tulang punggung yang tangguh, menopang dengan gagah, sampai kapan entah.

Dan serupa alasan untuk melakukan hal-hal seru, yang untuk sebagian orang terlalu takut untuk dilakukan.

Sesekali masih terdengar suaranya memanggil “Tuan Putri”, yang artinya, “Kamu sudah keterlaluan.”

Sesekali masih terlihat keningnya mengkerut mendengar slogan-slogan bermakna entah yang muncul dari generasi kita.

Sesekali masih ada tawa menggelegar saat bercerita tentang betapa lucunya manusia-manusia yang pernah ditemuinya.

Sesekali pula masih ada permintaan untuk membelikan beberapa es krim untuk dilumat seusai santap siang.

Ah, aku kangen Amang.

Amang adalah sebutanku untuk beliau yang kamu panggil Ayah atau Bapak.

Beliau yang mengajarkan bahwa mencintai negeri ini adalah harga mati.

Beliau yang mengajarkan bahwa sebaik-baiknya penolong adalah diri sendiri dengan restu Tuhan Yang Maha Esa.

Beliau yang mengajarkan bahwa dunia itu luas, pergilah, berkeliling, cari pengalaman sebanyak-banyaknya.

Beliau pula yang mengajarkan untuk hanya takut kepada satu hal, Tuhan, meskipun aku ternyata takut hantu.

Sekian.

(Sedang) Mencari di Kalimantan

Tuhan tak Pernah Salah

Standard

Kalau dulu kamu pernah mengirimkan senja, kali ini biarkan aku kirimkan sebuah pagi untukmu.

Ratusan malam sudah kita telan bulat-bulat.

Kita memang lebih suka melumatnya dengan banyak bicara tentang apa saja.

Tentang masa lalu, tentang rahasia, ataupun pengungkapan janji yang tertunda.

Ada mereka yang menghabiskan malam dengan tertawa terlalu keras.

Tapi kita tidak begitu, sayang..

Kita terlampau mahir menahan rasa, menjaganya agar tidak terlalu melimpah ruah.

Ada mereka yang menghabiskan malam dengan buliran air mata.

Seperti aku, beberapa saat sebelum bertemu kamu.

Ada kita yang menghabiskan malam dengan saling mengucap rindu.

Seperti kamu, saat kita masih bersama.

Tahukan kamu, kesenanganku bukan hanya tentang melumat kamu hidup-hidup.

Bahagiaku, bukan sebatas memilikimu sepanjang waktu.

Tentang kita adalah sebuah perjalanan.

Rute yang harus ditempuh untuk mencapai sebuah tujuan.

Kamu untukku bisa jadi sebuah jembatan.

Beton penghubung untuk menuju titik tertentu di seberang.

Maka aku akan melewatimu.

Aku lalu menyiapkan amunisi untuk bekal perjalanan.

Pada waktunya, aku mau melewatimu dengan hati riang.

Dan sementara waktu, bersabarlah untuk segala rasa yang tumpah.

Karena kita tahu, cara Tuhan tak pernah salah.

Cerita Tentang Menolong

Standard
Cerita Tentang Menolong

Pada tanggal 2 Maret 2015 saya kebingungan mau memberikan materi apa di kelas Seni, Budaya dan Ketrampilan. Lalu teringat sebuah materi lomba bertema “Menolong.” Saya lalu mencoba tema itu di kelas empat. Dilihat dari sisi mana saja, tulisan mereka jauh dari kata bagus apalagi sempurna.

Tapi baca tulisan mereka bikin saya senyum-senyum simpul semalaman.. 🙂

Berikut karya anak-anak saya :

“Pas saya ke bukit, saya melihat orang sedang jatuh. Aku tolongin. Terus aku kenalan sama dia. Namaku Elis, namanya Santi. Terus dia dipanggil sama Ibunya, aku juga. Jadinya kita berdua pulang. Jadi kami berdua berteman.” –Elis

Pas waktu itu gurita sedang jalan-jalan. Lalu dia masuk jaring. Jadi dia minta tolong. Lalu si ikan badut dan lumba-lumba mendorong. Ikan badut dan lumba-lumba menggigit jaring itu. Lalu jaring itu sobek digigit lumba-lumba. Lalu gurita itu keluat jaring-jaring itu. Lalu dia ucapkan terima kasih,” – Ipang

“Suatu hari saya sedangberada di bawah pohon. Saya melihat Iyes jatuh dari sepeda. Saya menolong Iyes. Iyes pun mengucapkan terima kasih karena sudah menolong saya. Saya akan membelas perbuatanmu suatu saat. “ Iya, sama-sama.” – Imran

“Saya menolong ita yang jatuh naik sepeda. Pas waktu itu Ita baru saja belajar naik sepeda. Ita selalu saja jatuh. Saya sangat senang karena sudah menolong orang yang biasanya menolong saya dengan baik.Ita itu orangnya sangat senang belajar dengan baik karena itu Ita suka menolong.” -Dewi

“Saya kemarin bermain sepeda dengan teman-teman, malah ketabrak pohon. Baru saya diambil sama teman-teman.” – Ade

“Suatu hari saya sedang santai. Tiba-tiba saya mendengar suara Brak! Ternyata pohon roboh. Saya pun menolong orang itu di dalam rumah, orangnya di luar.” – Aldo

‘Suatu hari saya melihat hewan sapi. Dia kelaparan. Saya lalu memberikan rumput yang banyak hngga dia kenyang. Habis dia makan, dia minum. Saya pulang ke rumah. Saya ambilkan minum. Habis minum, dia jalan-jalan. Habis jalan-jalan, dia pulang. “– Nur Miyati

‘Pada suatu hari, saya dengan Ida, Ita dan Enur pergi ke taman. Dan di sana Ita terjatuh saat bermain sepeda. Dan saya, Ida dan Enur segera menolong Ita. Ita terluka, ia merasa kesakitan dan ada yang membantu kami. Kami pun menggonceng Ita ke rumahnya. Dan sesampainya di rumahnya, ia diobati lukanya oleh ibunya.”- Chindy

“Dia nabrak pohon yang besar dan saya melihat dia di lalut jatuh, Dan saya menolong dia di laut. Dan banyak yang menolong dia di laut. Sedangkan yang naik kapal  tulon di laut juga.”– Aco Kecil

“Hari itu aku memancing. Pas hari itu ada orang naik motor. Dia terjatuh dan berteriak dan saya menolong dia.” – Andre

“Saat itu saya sedang pulang sekolah. Waktu itu saya melihat orang sedang jatuh. Terus orang itu luka di bagian kepala, baru dibawa ke rumah sakit.”– Khadida

“Saya melihat oramg jatuh dari motor dan saya membantu dia. Dia berdarah-darah. Sakit.” – Dian

“Pada suatu hari adik saya jatuh dari sepeda. Habis itu saya tolong. Dan Dia pun menangis. Lalu saya memanggil Ibu saya. Terus Ibu saya bilang “Apa?”. Saya jawab  “Adek jatuh dari sepeda, dia nangis. Lalu Ibu saya langsung keluar rumah untuk menolong ade.” – Ita Rahma Yani

‘Saat itu saya bertemu guru. Ibu guru mau mengambil buah jeruk itu dan ada anjin do situ dan juga saya menolong Ibu itu.” – Wilda

“Saat itu Dian mau pergi ke jembatan. Saya emnemani di. Lalu dia lupa tidak bisa berenang. Dia tenggelam , lalu saya menolong.” – Muhamad Liyas

“Pas hujan deras ada petir menyambar pohon besar sekalu. Pohon itu tumbang. Ada orang yang kena pohon itu. Lalu dia teriak, dan ada orangyang dengar dia dan langsung menolong.” – Fahreza

“Saya melihat orang jatuh dari sepeda dan saya bantu. Waktu itu ada orang jatuh dari sepeda namanya Iyes dan saya menolong. Iyes jatuh dan saya tolong.” -Fahri

“Saya melihat orang jatuh dari gunung. Terus saya bawa ke rumah saya. Dia cedera, kekinya keseleo. Terus saya kasih tahu ke orang tuanya.” (Tidak pakai nama, kayaknya Andri)

‘Saya pernah menolong  orang yang jatuh dari sepeda motor. Saya langsung lari ke jalan untuk menolong. Orang itu jatuh, sudah itu saya membawa orang itu ke rumah. Saya senang memambantu orang yang kesusahan dan saya senang menolong orang.” – Apri

Perpustakaan SDN 006 Pasir Belengkong, Tana Paser

Standard

Sejak berdiri empat tahun yang lalu, perpustakaan SDN 006 Pasir Belengkong ramai dikunjungi  anak-anak. Di tempat ini anak-anak senang membaca berbagai buku dengan beragam tema, termasuk pengetahuan alam, ketrampilan sosial, musik, dan lain sebagainya.

Selain sebagai tempat membaca yang asyik, para guru juga memanfaatkan perpustakaan ini sebagai ruang belajar. Selama dua atau tiga minggu sekali, anak-anak bisa bermain sambil belajar dipandu guru. Kegiatan ini dibuat menyenangkan sesuai keinginan anak-anak.

Namun keterbatasan jumlah membuat sekolah tidak mengijinkan buku-buku untuk dibawa pulang. Jumlah buku cerita di tempat ini hanya sekitar 150 buah saja. Anak-anak hanya bisa membaca di perpustakaan selama ada guru yang mengawasi.  Untuk mengimbanginya, guru pengawas sering membacakan cerita dari buku-buku yang ada di kelas.

Berikut beberapa kegiatan yang telah berjalan di perpustakan kami:

1.       Temukan Lokasinya!

Kami mendapatkan beberapa produk dari Gerakan Indonesia Mengajar berupa Kartupedia. Kartu ini terdiri dari lima seri, yaitu pahlawan, penemuan, tata surya, seri bangunan bersejarah dan flora-fauna. Kalau kartu sudah habis, kami juga suka mencari lokasi-lokasi tertentu seperti yang ada di buku-buku.

IMG_2762

2.       Kit Alat

Anak-anak selalu senang mencoba sesuatu yang baru. Apalagi jika tersaji dalam bentuk nyata, bukan sekadar tutorial di buku atau ceramah dari guru. Alat-alat sederhana ini membantu anak-anak lebih memhami segala hal terkait dengan fenomena alam, seperti daya magnet, pesawat sederhana dan lainnya.

IMG_2769

3.       #BeraniMenggambar

Siapa bilang menggambar itu sulit? Dengan sedikit bantuan dari internet, guru mencari tutorial menggambar yang serius tapi santai. Salah satu gerakan yang sedang digandrungi anak-anak adalah #BeraniMenggambar besutan Mas Wahyu Aditya pendiri Hello Motion Academy. Gambar-gambar ini nantinya ditempel agar ruang kelas menjadi meriah.

beruang ngamuk

4.       Masak Itu Gampang

Ternyata beberapa buku anak-anak menyisipkan resep-resep yang mudah untuk dipraktekan. Meskipun baru akan dijalani minggu ini, tapi kami optimis akan berhasil membuat bola-bola cokelat itu!

IMG_2776

5.       Letter Game

Anak-anak suka sekali bermain Letter Game atau Scrabble. Caranya cukup mudah. Jika bermain melawan guru (iya, satu guru lawan anak-anak beramai-ramai), mereka boleh mencari kata-kata dari kamus. Permainan ini selain untuk mengulang pelajaran Bahasa Inggris, juga efektif menambah kosakata.

IMG_2773

Nah, sekarang perpusatakaan kami ingin ikut seleksi #gpu4library dalam rangka ulang tahun ke-41 Gramedia Pustaka Utama. Kami akan senang sekali kalau berhasil dapat bantuan buku lebih banyak dari acara ini.

Untuk itu kami membutuhkan bantuan Om, Tante, Mbak, Mas, Bapak, Ibu sekalian untuk mengirimkan email rekomendasi ke michelle@gramediapublishers.com. Dalam rekomendasi cukup menyebutkan :

Nama : Perpustakaan SDN 006 Pasir Belengkong
Alamat : SDN 006 Pasir Belengkong, Desa Suliliran, Kecamatan Pasir Belengkong. Kabupaten Paser, Kalimantan Timur 76271
Penanggung Jawab : Meiliani Fauziah (Guru Bahasa Inggris, SBK dan TIK)
Kontak : 081807381488

Gampang kan? Tolong dibantu yak! Makasih banget! Kecup hangat untuk semuanyaaa ^^

Gadis Desa Karbitan

Standard
Gadis Desa Karbitan

Sebagai anak yang tumbuh di kota besar, enggan rasanya meninggalkan beberapa kebiasaan yang terlanjur melekat. Apalagi kalau kebiasaan itu memang betul-betul disukai dan saya rasa tidak mengganggu kepentingan agama dan kedaulatan negara.

Saya suka sekali merawat diri jika liburan tiba. Seminggu atau dua minggu sekali akan saya sediakan waktu untuk melakukan pedicure dan manicure sendiri ataupun pergi ke salon. Saya pun memiliki alat-alat yang lumayan lengkap untuk melakukan hal itu. Saya pun memiliki persediaan body butter, body scrub, sabun dan sea salt dengan beragam keharuman yang bisa saya pilih sesukanya.

Ketika kini bertugas di desa, saya membawa satu set peralatan pedicure dan manicure serta sederet lotion berwangi zaitun. Pada hari sabtu atau minggu, biasanya jam mandi saya bisa sampai satu jam sendirian. Iya, saya luluran, keramas, membersihkan rambut-rambut halus dan apapun yang saya rasa perlu agar saya merasa sangat bersih.

Habis mandi baru saya menggunting kuku. Sangat disarankan menggunting kuku terutama kuku kaki setelah mandi karena kutikula kita sedikit lebih lembut teksturnya. Kuku bekas digunting pun akan lebih halus dibandingkan jika menggunting tanpa mandi. Atau minimal rendam saja tangan selama beberapa menit sebelum melakukukan pengguntingan.

Cara menggunting saya pun tidak berubah sejak SD. Saya selalu menggunting kuku dimulai dengan jempol tangan sebelah kiri, dilanjutkan dengan jempol tangan sebelah kanan, telunjuk kanan dan seterusnya berurutan sampai berakhir di telunjuk kiri. Ini adalah ajaran guru ngaji saya. Kata beliau (kalau tak salah ingat) inilah cara menggunting kuku yang disarankan Nabi Muhammad SAW.

Aturan yang sama juga berlaku ketika mengguting kuku kaki. Hanya, ketika jempol kaki selesai digunting kukunya, langsung saja kotoran kuku di sela-sela dibersihkan. Hal ini untuk menghindari kutikula terlanjur mengering jika menuggu semua bagian kuku selesai dipotong. Kotoran yang menempel di tepi jempol kaki menurut saya lumayan menjijikan.

Bagaimanapun, saya suka merasa bersih. Apalagi kini saya seorang guru yang berarti harus memberikan contoh terbaik untuk anak-anak. Di kelas, kami selalu membuka sepatu agar lantai kelas bisa diduduki. Kalau anak-anak itu melihat jari kaki saya kotor, mampukah saya berharap jari kaki mereka bersih?

NB : Sekarang setiap sore saya latihan yoga. Iya, saya juga bawa yoga mat ke desa.

Hujan di Suliliran

Standard

Hujan betul-betul ditunggu di Desa Suliliran, Kecamatan Pasir Belengkong, Paser, Kalimantan Timur. Kalau tak ada hujan, rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas untuk pengeboran air tanah bergantung pada air sungai yang warnanya mirip teh tarik. Segala kebutuhan hidup, mulai dari mandi, makan dan lainnya menggunakan teh tarik yang terasa licin di kulit. Keuntungan bagi saya yang datang dekat musim hujan, sehingga tak perlu lama-lama mandi dengan teh tarik. Saya pun berdoa setiap hari agar musim kemarau tak perlu cepat-cepat  datang (tolong aminkan).

Sepanjang tahun 2015 saya akan tinggal di rumah keluarga petani. Keluarga ini memiliki sepetak sawah, kebun serta peternakan yang dihuni ayam dan bebek. Ibu baru mulai menanam sawit karena melihat para tetangga cukup berhasil dengan kebunnya. Selain itu Ibu juga menanam cabai atau lombok dan singkong. Bulan ini sawah kami mulai ditanami padi. Kata Bapak, musim hujan seperti sekarang harus dimanfaatkan baik-baik.

Hari pertama tiba di rumah, saya sempat mencicipi mandi dan sikat gigi menggunakan teh tarik. Saat itu saya belum tahu bahwa ada satu gentong air sumur yang bisa digunakan untuk air minum. Rupanya tiga gentong yang ada di dapur kami berisi tiga jenis air yang berbeda untuk kebutuhan yang spesifik. Gentong pertama berisi air sungai (saya paling jarang pakai gentong yang ini), gentong kedua berisi air sumur dan gentong ketiga berisi air untuk kebutuhan memasak. Begitu mengetahui spesifikasi gentong-gentong tersebut, saya sebisa mungkin pakai gentong berisi air minum utuk wudhu, cuci muka dan sikat gigi.

Untuk mencuci baju sejak awal saya menggunakan gentong berisi air sumur seperti yang dicontohkan Ibu. Saya pun tidak tahu sebetulnya keluarga ini menggunakan gentong  yang mana untuk mencuci baju? Saya belum pernah liat proses mencuci baju di rumah ini. Bahkan jemuran kami pun berbeda, saya di halaman depan dan anggota keluarga lain di halaman belakang. Saya masih ragu menyentuh halaman belakang karena dikuasai oleh ayam dan kucing. Alhasil pasrah saja ketika pakaian dalam saya menjadi konsumsi warga desa. Setidaknya aroma jemuran saya wangi belimbing.

Bicara tentang air, saya masih beruntung dibandingkan para pendahulu. Mereka setiap minggu harus membeli empat liter aqua setiap minggu untuk sikat gigi. Gusinya bengkak karena berkumur dengan air sungai selama dua minggu.

Melihat keberuntungan ini, maka nikmat tuhan mana yang harus saya dustai?

Gratis #5 : Galeri Indonesia Kaya

Standard
Gratis #5 : Galeri Indonesia Kaya

Seperti blogger-blogger lain, saya harus gak ya minta maaf karena absen mengisi blog ini selama berbulan-bulan? Bolehlah, toh tidak susah-susah amat. Siapa tahu di luar sana ada yang menanti pernyataan maaf saya, haha..

Sebetulnya banyak acara gratisan yang saya datangi selama ini. Tapi saya seolah menunggu wangsit sampai betul-betul ingin menulisakannya. Kenapa? Karena sejak menjadi seorang jurnalis, tulisan saya cenderung ke arah berita. Saya sendiri begah bacanya, gimana Anda?

Jadi sebelum tulisan saya bertambah ngelangtur, mari kita bahas gratisan terakhir yang saya alami.

Sejak lama saya tahu keberadaan Galeri Indonesia Kaya. Sekedar tahu saja sih, belum berniat mencari tahu lebih jauh. Tapi suatu hari ada undangan mampir ke milis kantor. Isinya agenda acara yang akan diadakan di galeri tersebut.

Kebetulan hari Sabtu, (9/8) saya diundang ke pernikahan seorang teman liputan. Karena abang saya tidak bisa mengantar, jadi saya putuskan berangkat lebih awal ke Jakarta. Undangan pukul 19.00 WIB dan saya berangkat dari rumah pukul 14.00 WIB. Selain antisipasi kemacetan malam minggu, saya ingin lihat pertunjukan “Nyaris” yang akan dibawakan Teater Koma di Galeri Indonesia Kaya. Omong-omong, galeri ini berada di Grand Indonesia lantai 8. Persis di samping bioskop Blitz Megaplex.

Pintu galeri dibuka 30 menit sebelum acara. Sebelum menonton pertunjukan, pengunjung harus mengisi daftar absen. Kebetulan saat itu saya akting mau liputan (haha), jadi saya diberi kertas rilis. Sedangkan pengunjung umum lainnya dibekali sebuah gelang sebagai penanda. Tidak dipungut bayaran masuk kesitu.

Awal galeri dimulai dengan sapaan beberapa pasangan dengan pakaian adat. Maafkan saya yang terkena euforia jadi tidak banyak foto-foto. Selanjutnya ada manekin wayang, dilanjutkan dengan aneka permainan digital. Mulai dari dengar lagu daerah, katalog tempat wisata, congklak dan foto dengan baju daerah. It was super fun! Jangan takut datang kesana sendiri, karena semua permainan komputer bisa menampilkan lawan sepadan, haha!

Tidak lama pintu ruang pertunjukan dibuka, penonton dipersilahkan masuk. “Nyaris” bercerita tentang enam orang Indonesia yang sedang bersembunyi di gudang bawang tanah sebuah pabrik kecap. Mereka menunggu aba-aba untuk bisa keluar tanpa ketahuan Belanda. Menariknya, setiap penampil membawa kertas naskahnya. Saya baru sekali ini melihat teater dengan “contekan”.

Meskipun demikian, acungan jempol untuk artikulasi suara yang keluar dari mulut aktor dan artisnya. Begitu apik, sehingga “contekan” itu seperti idgham bilagunnah. Ada tapi tak dianggap. :p

Pertujukkan selesai satu setengah jam kemudian. Sesudahnya saya berkeliling untuk melihat isi galeri. Saya sempat mencoba main angklung digital membawakan cublek-cublek suweng. Alhamdulillah, gagal. Oiya, semua hasil dari permainan digital tersebut sebetulnya bisa langsung di-upload ke sosial media. Gaya banget yekaan?

indonesia kaya

Setelah hampir tiga jam berada disana, saya putuskan ini salah satu tempat alternatif kencan berbudaya yang oke. Selain banyak wahana, acara yang ada pun gratis. Tapi hati-hati, di dekat pintu keluar ada sebuah etalase berisi barang-barang khas Indonesia. Kebanyakan memang baju, tapi sumpah keren-keren banget. Kalau gak kuat-kuat iman, saya sudah jual kilang minyak di Yordania. #eh

Jadi kalau ingin lebih mengenal Indoensia, datang saja ke tempat ini. Cek jadwal acara di wwww.indonesiakaya.com .

DIRGAHAYU INDONESIA!

 

 

Karawaci, 18 Agustus 2014

Demi Papua (1)

Standard

Bulan Mei ini ada tantangan baru dalam kehidupan “dewasa muda” saya, haha. Selain karena umur saya bertambah satu, tapi muka saya tetap seperti anak SMA. *lalala*.

Ceritanya saya ditinggal sendirian di rumah selama dua minggu sementara Ibu dan abang saya piknik ke negara Obama. Jadilah sebelum keduanya berangkat, saya atur rencana agar tak perlu sering-sering di rumah. Saya penakut. Apalagi kalau malam, gelap dan sendirian. 

Nah, sejak ikut tantangan #100happydays saya makin rajin ngulik Instagram. Saya follow si anu dan si itu. Suka-suka saya. Kadang-kadang saya unfollow juga secara berkala. Kebanyakan yang saya follow itu fashion blogger, toko makanan dan mereka yang berhubungan dengan industri kreatif. Saya memang suka barang-barang buatan tangan. Selain jumlahnya terbatas, kualitasnya relatif terjaga. 

Salah satu yang saya ikuti adalah akunnya Andra Alodita. Suatu hari Andra posting sesuatu tentang IShape, semacam program untuk menyebarkan gaya hidup sehat. Disana ada tantangan untuk menurunkan berat badan dalam waktu 6 minggu. Caranya dengan menjaga asupan makan dan olahraga yang teratur.

Kebetulan tanggal 16 Juni mendatang saya akan menyelam untuk pertama kalinya di Raja Ampat, Papua. Saya ingat betapa ngos-ngosan ketika dahulu menyelam pertama kali. Pernapasan tidak teratur karena jarang olahraga. Gerakan menjadi terbatas dan kurang nyaman di dalam laut.

Akhirnya saya memutuskan menelpon Coach Rini, contact person yang ada dalam promosi tersebut. Kata dia, tantangan ini akan dilakukan dengan kombinasi olahraga, pengenalan nutrisi dan cara hidup yang lebih sehat. Baiklah, saya ikutan. Latihan pertama dimulai tanggal 2 Mei 2014. Seterusnya setiap hari selasa mulai pukul 19.30 WIB. Tantangan ini berakhir minggu depan, tanggal 10 Juni 2014. Cocok. Habis latihan, pasti saya kecapaian. Harusnya sampai rumah tengah malam, langsung tidur, sip. 

Sesi pertama dimulai dengan menimbang berat badan. Saya baru sadar kalau berat badan saya menurut si Tanita, timbangan di gymnasium, ngotot banget di angka 57 kg. Sejak lama saya pikir berat saya sekitar 53-55 kg. Lalu umur metabolisme saya 35 tahun dengan tingkat obesitas 7,8 persen. Dengan tinggi 155 cm, berat ideal saya 52,9 kg. 

Di awal, peserta tantangan ini termasuk saya berjumlah 4 orang. Andra, si brand ambassador, ikutan latihan bersama kami di sesi pertama. Kita mulai cerita kenapa tertarik ikut tantangan ini–dan yes, berhadiah uang tunai yang saya lupa berapa jumlahnya. Alasan saya ya itu tadi, saya ingin ketika menyelam nanti badan bisa lebih ringan. 

Berbeda dengan peserta lainnya, Minggu pertama tantangan ini saya selow sekali. Hampir tidak ada yang berubah dalam keseharian. Makan tetap banyak, olahraga tetap malas. padahal Coach Rini meminta semua peserta melakukan kardio minimal 20 menit setiap hari. Boleh jumping jack, boleh lari, boleh jalan cepat. Hari selanjutnya setelah sesi pertama, saya masih semangat lari pagi. Namun lima hari berikutnya sebelum sesi kedua, saya hanya kadang-kadang masih yoga. Minus kardio sama sekali. 

Alhasil di sesi kedua berat saya hanya turun 0,1 kg. Itai, pelatih kami dari IShape, mukanya datar betul tapi tetap tampan. Dia pun sungguh baik hati. Dia bilang setidaknya tingkat obesitas saya menurun menjadi 7,6 persen! Haha.. Dia hanya minta selanjutnya saya lebih banyak minum air putih dan melakukan kardio. Olahraga betul-betul penting agar lemak yang tersisa dari penurunan berat badan betul-betul terbuang. Tidak elok rasanya kalau langsing tapi tampak bergelambir. 

 

 

Gambar

 

 

Minggu kedua saya niat saya mulai tumbuh. Saya belanja buah-buahan dan sayuran. Di minggu ini Ibu dan abang saya sudah berangkat ke Amerika Serikat. Ibu meninggalkan sejumlah uang yang bisa saya gunakan untuk membeli camilan. Habis mengantar ke bandara, saya langsung ke Ranch Market beli buah dan sayur-sayuran yang saya suka. Saat itu saya hanya berpikir bahwa saya harus banyak makan buah dan mencoba makan sayur. Saya beli apel, anggur, lemon, baby carrot, selada dan soy milk. Saya juga beli daging cincang, beberapa bumbu dapur dan minyak zaitun.

Malam Ibu saya ke Amerika adalah malam pertama saya masak pakai minyak zaitun. Saya juga membuat detox water. Caranya gampang, satu lemon diiris-iris tipis dan campur sama satu botol besar air putih. Simpan di kulkas semalaman, diminum besok pagi. Kalau airnya sudah habis, bisa diisi ulang. Kalau saya, air tersebut hanya untuk minum seharian dan malam hari lemonnya saya ganti. Lemon yang tersisa bisa untuk cuci piring atau masker muka. 

**

Hari Selasa nanti adalah hari penentuan siapa yang menang. Berat saya dalam lima minggu ini sudah turun 2,4 kg.

Sebetulnya saya mau cerita lebih banyak, tapi besok liputan pagi. Nanti disambung lagi yak! 

 

Tips dari Itai kalau mau lebih sehat :

1. Sediakan 15 menit setiap hari untuk olahraga. Apapun, boleh yoga untuk pemalas seperti saya. 

2. Minum setidaknya 1 liter air putih setiap hari.

 

 

Karawaci, 4 Juni 2014